Oleh: sancristy | Maret 11, 2012

Angkutan Umum Banyak Digunakan

Setiap hari, terutama pada pagi dan senja hari, di stasiun-stasiun kereta-api Jepang terlihat orang berbondong-bondong berjalan masuk dan keluar stasiun secara tergesa-gesa.
Ya, di Jepang kereta-api memang merupakan sarana angkutan umum yang banyak digunakan masyarakat dari segala lapisan, termasuk para eksekutif !
Frekwensi perjalanan kereta-api cukup tinggi dengan jadwal yang tepat waktu serta banyak-tujuan. Di kota-kota besar, selalu ada kereta-api komuter yang terus-menerus mengelilingi kota sehingga bila kita terlambat untuk jadwal tertentu, ya tunggu saja sebentar karena pasti dalam waktu singkat ada kereta lagi. Jaringan kereta komuter ini sambung-menyambung dengan berbagai jalur yang melintasi tengah kota. Banyak dan lengkap, tinggal ganti kereta-api, ada yang lewat di bawah-tanah juga.
Stasiun kereta-api di kota besar Jepang sangat menarik karena juga merupakan pusat perbelanjaan yang lengkap. Ada kios-kios makanan cepat-saji, restoran, kafe, kios pakaian dan berbagai barang keperluan, dsb. !
Stasiun kerap merupakan tempat berkumpul para remaja dan orang muda.

Publik Jepang lebih suka naik angkutan umum, terutama kereta-api, juga bis, daripada mengendarai mobil pribadi. Rata-rata setiap rumah-tangga Jepang punya paling tidak satu mobil (angka rata-ratanya adalah 1,1 unit mobil per rumah-tangga). Penggunaan mobil pribadi hanya sekitar 40% dari keseluruhan perjalanan di Osaka, Nagoya dan Tokyo, tiga kota terbesar di Jepang.

Mengapa orang Jepang lebih suka naik angkutan umum ? Pertama, karena faktor mudahnya, cukup nyaman walau kadangkala memang cukup padat penumpang, dan luasnya jaringan. Taksi adalah sarana angkutan yang paling akhir dipilih dalam hal angkutan umum, hanya karena faktor tarif yang cukup tinggi.

Banyak kendala bila orang Jepang mengendarai mobil pribadi untuk ke tempat kerja atau sekolah/kuliah. Mobil pribadi hanya dipakai sesekali, misalnya pada akhir pekan untuk jalan-jalan dengan keluarga. Hanya para pimpinan teratas dari sebuah perusahaan atau lembaga pemerintah yang datang dan pulang ke kantor dengan kendaraan sedan pribadi yang dikemudikan oleh supirnya. Hal tersebut juga disebabkan oleh harga bahan bakar yang mahal, lk. Rp 15.000,- per liter, ongkos parkir juga mahal bisa sampai ratusan ribu Rupiah (bila dirupiahkan dari Yen). Belum lagi sewa garasi (bagi mereka yang tidak punya garasi).

Salah satu kelebihan angkutan umum Jepang yang paling menonjol adalah ketepatan jadwalnya, dan terjaganya kebersihan di dalam angkutan umum.
Juga menonjol ketertiban para penumpang angkutan umum. Mereka selalu antri dengan tertib untuk naik kereta-api atau bis, turun dengan teratur dan tidak membuang sampah sembarangan/seenaknya. Sebagian penumpang memanfaatkan waktunya di kereta dengan membaca atau mengotak-katik gadget.

Di trotoar terlihat cukup banyak orang berlalu-lalang berjalan kaki, baik mereka yang keluar dari stasiun kereta-api maupun yang menuju stasiun, ataupun mereka yang sedang menuju kantornya, dan mereka yang berbelanja.
Mereka merasa aman karena sarana penyeberangan tersedia lengkap dengan lampu dan suara pemberitahuan. Selain itu, juga ada jalur untuk mereka yang bersepeda. Oh ya, di Jepang sepeda-motor tidak begitu banyak dipakai, berbeda dengan keadaan di Jakarta.

Demikian sekilas mengenai betapa masyarakat Jepang sudah menggunakan angkutan umum.

Oleh: sancristy | Januari 12, 2012

Jepang Selintas Kilas (3 – akhir)

Jepang Selintas Kilas (3 – bagian akhir)

Orang Jepang secara tradisional menganut sistem ikatan keluarga yang kuat, akan tetapi dewasa ini ikatan demikian menjadi makin longgar, terutama di kota-kota besar. Kini banyak keluarga inti (yaitu ayah-ibu dengan dua anak) yang hidup terpisah dari kakek dan nenek, karena di kota-kota besar keluarga Jepang tinggal di apartemen sedangkan kakek-nenek biasanya tinggal di daerah. Sementara itu, jumlah kaum manula kian meningkat sehingga timbullah berbagai masalah biaya kesehatan dan sebagainya. Rentang usia rata-rata adalah 85,6 tahun (wanita) dan 78,6 tahun (pria).

Wajib belajar berlaku bagi semua anak, dari sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah pertama. Pendidikan di Jepang pada prinsipnya terdiri dari pendidikan Dasar (6 tahun), Menengah ( 3 + 3 tahun) dan Tinggi (universitas 4 tahun, D-2 dan D-3); juga ada Technical Colleges bagi para lulusan sekolah menengah pertama. Adanya persaingan ketat untuk memperoleh prestasi tinggi dan agar bisa masuk sekolah unggulan, menyebabkan padatnya kegiatan belajar anak-anak, termasuk kegiatan mengikuti pelajaran tambahan di tempat bimbingan belajar yang disebut juku. Tahun ajaran Jepang dimulai pada bulan April dan berakhir pada akhir bulan Maret tahun berikutnya. Pelajaran di kelas berlangsung dari jam 8.30 pagi hingga sekitar jam 3 sore. dan di sekolah para siswa/i mendapat makan siang. Mereka sendirilah yang bertugas secara bergiliran membagikan makan, membersihkan sekolah, dll. Boleh dikatakan bahwa para pelajar menghabiskan waktu hampir seharian penuh untuk belajar di sekolah dan mengikuti les tambahan. Hiburan yang mereka nikmati adalah menonton televisi, main play station, ikut grup olahraga dan kesenian. Pada liburan sekolah, biasanya ada acara darmawisata bersama yang diselenggarakan oleh sekolah. Pada umumnya para pelajar wajib mengenakan seragam yang ditentukan sekolah.

Masyarakat Jepang amat mencintai budaya tradisionalnya dan berusaha terus melestarikannya. Beberapa unsur budaya tradisional yang terkenal adalah misalnya, kerajinan tangan keramik, seni merangkai bunga ikebana, seni melipat kertas menjadi bentuk-bentuk tertentu, disebut origami, seni membuat kertas washi yang alami, juga di bidang seni pentas (misalnya drama Kabuki yang tampil indah; drama Noh bertopeng, dengan gerak kaku, teater boneka Kyogen), termasuk musik seperti musik koto (kecapi Jepang), shamisen (berdawai 2, digesek), seruling shakuhachi, dan lain-lain. Musik tambur taiko yang biasanya dimainkan secara berkelompok, agaknya bisa disandingkan dengan rempak bedug Indonesia ! Akan tetapi, di kalangan kaum muda juga tampak adanya ketidakpedulian akan budaya tradisional. Misalnya, anak muda Jepang amat enggan menonton drama Kabuki, “bikin ngantuk aja !”, kata mereka. Pakaian tradisional Jepang adalah kimono, sedangkan yukata adalah kimono katun (sederhana) yang dikenakan pada kesempatan festival musim panas.

Jepang adalah negeri festival. Dalam setahun ada banyak festival. Salah satu di antaranya adalah Festival Hari Anak-anak yang jatuh pada tanggal 5 Mei. Pada hari tersebut, pada umumnya keluarga yang punya anak-anak yang masih kecil mengibarkan umbul-umbul berbentuk ikan-ikan koi berwarna-warni. Selain itu, di dalam rumah juga dipajang seperangkat pajangan khusus berupa bentuk kecil baju zirah (baju pelindung dari baja atau jerami, dipakai oleh pendekar perang zaman dulu), pedang, dan lain-lain. Sebenarnya hari itu lebih ditujukan bagi anak laki-laki, karena untuk anak perempuan ada “Hina-Matsuri” (festival boneka “Hina”) yang jatuh pada tgl. 3 Maret. Pada hari itu, keluarga yang punya anak perempuan kecil mengadakan perayaan dengan memajang seperangkat boneka khusus pada rak bersusun yang diberi karpet merah. Kedua perayaan itu juga merupakan warisan kebudayaan tradisional. Berbagai festival yang marak di seluruh Jepang sepanjang tahun pada umumnya merupakan pesta rakyat dengan peran-serta masyarakat setempat, tua-muda dan dari berbagai kalangan. Kebanyakan festival dilakukan secara beramai-ramai, misalnya menari bersama (seperti festival Awa-Odori), atau menggotong omikoshi (kuil Shinto miniatur) seraya berteriak-teriak dengan bersemangat, dsb, dengan iringan musik tradisional, terutama tambur (taiko). Beraneka festival tersebut sebenarnya merupakan wujud rasa syukur atau doa minta panen yang berlimpah, atau sejenisnya, atau bisa juga menggambarkan keadaan masa tertentu dalam sejarah Jepang, yang berasal dari zaman dahulu.

Sementara budaya dan kesenian tradisional dibina, pada saat ini juga berkembang apa yang dinamakan seni pop Jepang, yang telah menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Anda mungkin sudah tahu apa itu anime (film kartun), manga atau komik. Sailor Moon, Pokemon, Doraemon…. pasti sudah dikenal oleh kaum muda, terutama para remaja. Oh ya yang sekarang sedang populer adalah Blue Dragon atau Naga Biru, Komaneko, Sergeant Keroro……

Pengaruh keberadaan komik terhadap kehidupan orang Jepang ternyata cukup besar. Bahkan banyak pengetahuan disampaikan dalam bentuk buku komik. Kemudian, unsur budaya pop lainnya adalah gaya berpakaian para remaja Jepang yang banyak ditiru di luar negeri. Ada pula gaya berpakaian ala tokoh-tokoh dalam cerita komik. Gaya berpakaian demikian disebut cozplay. Para otaku (penggemar fanatik) mengumpulkan figur-figur (mainan berupa bentuk tokoh-tokoh komik, berukuran kecil sebesar jari). Jenis musik pop Jepang (biasa disebut J-pop) kiranya juga cukup banyak penggemar dan pengikutnya di berbagai penjuru dunia.

Bahasa Jepang adalah satu-satunya bahasa nasional. Di daerah-daerah terdapat beberapa dialek. Bahasa Jepang menggunakan tiga macam huruf, yaitu huruf kanji, hiragana dan katakana.

Akhirnya, berikut ini pembahasan singkat tentang faktor-faktor yang mendorong Jepang bisa mengalami kemajuan pesat, padahal Jepang porak-poranda pada akhir Perang Dunia ke-2 (1945) ? Mengenai hal ini, ada banyak pendapat. Akan tetapi, secara umum dapat diambil kesimpulan bahwa memang ada beberapa faktor yang mendasari dan mendorong terjadinya kemajuan yang membawa Jepang menjadi salah satu negara termaju di dunia. Semua faktor itu merupakan kebiasaan yang sudah lama tertanam dalam kehidupan orang Jepang, yaitu : rajin bekerja dan berani memikul bertanggung-jawab, berhemat dan suka menabung, disiplin (tepat waktu, dan lain-lain), usaha menjaga mutu, adanya etika malu atas sikap atau perbuatan salah, mencintai alam dan berusaha hidup selaras dengan alam, Kemajuan di bidang sains dan teknologi ditopang oleh ketekunan mengadakan banyak penelitian. Meskipun demikian, tentu juga ada cukup banyak hal-hal yang kurang menguntungkan seperti terjadi polusi lingkungan ketika Jepang sedang giat-giatnya memacu pertumbuhan tinggi perindustriannya; tapi masalah demikian sudah banyak teratasi dewasa ini. Justru masalah sosial yang perlu dihadapi Jepang, a.l. masalah makin banyaknya jumlah kaum tua (berusia lanjut) sehingga memerlukan biaya perawatan, dsb.; terjadinya persaingan ketat dalam dunia pendidikan sehingga para siswa-siswi mengalami stres berat yang tercetus dalam tindakan ijime (bullying – mengganggu atau menyiksa sesama teman sekolah), sampai adanya tindakan bunuh-diri karena kecewa dengan prestasi belajar. Konon dengan adanya permainan komputer, internet, dll., hubungan antara orangtua dan anak-anak tidaklah begitu manis karena anak lebih suka berkurung di kamarnya, duduk berjam-jam di depan komputer, atau di depan pesawat televisi. Ya, itulah harga yang terpaksa dibayar untuk berbagai kemajuan yang diraih…..

Ucapan belasungkawa kepada rakyat Jepang atas terjadinya bencana alam gempa dan tsunami di wilayah pantai Tohoku  serta adanya bahaya radiasi yang berasal dari PLTN di Fukushima.

Kita tidak lupa bahwa setiap kali terjadi bencana di tanah-air Indonesia, Jepang selalu memberikan perhatian dan bantuan dalam berbagai bentuk, misalnya ketika terjadi tsunami di Aceh dan gempa di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Sekaranglah giliran kita untuk memberikan perhatian dan bantuan kepada rakyat Jepang. Kita doakan semoga segala penderitaan rakyat di kawasan tsb. segera berakhir.

Untuk mengetahui berita terkini mengenai situasi di Jepang, Kedutaan Besar Jepang di Jakarta telah menyediakan informasi melalui website mereka dengan URL :

http://www.id.emb-japan.go.jp/news11_17html

Anda ingin ke Jepang ?  Kabarnya sulit mendapat visa ? Tidak demikian…asal….

Nah inilah info lengkapnya !

Informasi Visa
Pengertian Visa

Visa adalah sebuah rekomendasi yang diberikan kepada warga negara asing untuk dapat masuk ke negara Jepang dan bukan berarti izin mutlak atau jaminan untuk dapat masuk ke negara Jepang. Keputusan terakhir untuk dapat masuk atau tidak ke negara Jepang akan diberikan oleh pihak Imigrasi Jepang pada saat mendarat di Jepang.

Jenis-Jenis Visa

  1. Visa Kunjungan Sementara untuk Tujuan Kunjungan Keluarga
  2. Visa Kunjungan Sementara untuk Tujuan Kunjungan Keluarga (apabila Pengundang adalah WN Jepang yang berdomisili di Indonesia
  3. Visa Kunjungan Sementara untuk Kunjungan Teman
  4. Visa Kunjungan Sementara untuk Kunjungan Wisata dengan Biaya Sendiri
  5. Visa Kunjungan Sementara untuk Tujuan Bisnis
  6. Visa Kunjungan Sementara Berkali-kali
  7. Visa Khusus (Visa Pelajar/ Bekerja/ Pelatihan/ Menetap dalam jangka waktu tertentu)
  8. Visa Transit

Untuk permohonan visa jenis lainnya, silahkan hubungi Konsulat Jenderal Jepang (atau Bagian Visa) di wilayah yurisdiksi masing-masing.


Pembuatan Visa

  • Permohonan Visa tidak bisa diterima, apabila seluruh persyaratan tidak dipenuhi / tidak lengkap.
  • Setelah permohonan diperiksa, apabila diperlukan dokumen lain sebagai tambahan, akan diminta kemudian.
  • Permohonan visa hanya akan diproses di Konsulat yang sesuai dengan wilayah yurisdiksi masing-masing. (klik di sini untuk melihat wilayah yurisdiksi)
  • Proses pembuatan visa : minimal 4 (empat) hari kerja

Jam Kerja Bagian Konsulat Jepang di Jakarta/ Bagian Visa

Hari Senin – Jumat, (kecuali pada hari libur nasional dan libur Kedutaan Besar Jepang )
Pengajuan Permohonan Visa : pk. 08:30 – 12:00
Pengambilan Paspor : pk. 13:30 – 15:00

Biaya Pembuatan Visa

Perubahan harga visa mulai 1 April 2010. Bagi permohonan yang dilakukan sebelum tanggal 1 April 2010, maka harga akan tetap disesuaikan dengan tanggal permohonan (Contoh:  permohonan yang diterima pada tanggal 31 Maret, dan diserahkan pada tanggal 3 April akan tetap dikenakan harga visa lama).

Harga visa akan berubah sebagai berikut:

Harga Lama Harga Baru
1.Visa Single Entry Rp 270,000,- Rp 320,000,-
2.Visa Multiple Entry Rp 540,000,- Rp 640,000,-
3.Visa Transit Rp 60,000,- Rp 75,000,-

Tentang Pengajuan Permohonan Visa melalui Perwakilan

Pada prinsipnya pengajuan permohonan visa dilakukan oleh Pemohon langsung di loket visa. Namun, pengajuan permohonan visa oleh grup atau perusahaan seperti tercantum di bawah ini bisa diwakilkan (staf dari kantor tempat pemohon bekerja, keluarga, dlsb):

  1. Anak berusia di bawah 16 tahun, orang berusia lebih dari 60 tahun atau orang dengan keterbelakangan fisik,
  2. Pemohon dengan paspor diplomat atau dinas dengan tujuan kunjungan dinas,
  3. Pemohon yang mengajukan permohonan visa melalui biro perjalanan yang sudah disetujui oleh kantor Konsulat Jenderal Jepang.

Kriteria Pengeluaran Visa

Pada prinsipnya, visa Jepang dapat diberikankepada pemohon, bila yang bersangkutan memenuhi persayratan berikut ini dan bila pengeluaran visa dianggap cukup beralasan.

  1. Pemohon memiliki paspor yang berlaku dan berhak masuk kembali ke negara dimana pemohon adalah warganegaranya atau warganya, atau negara tempat pemohon tinggal.
  2. Seluruh dokumen yang diserahkan harus asli, lengkap dan memuaskan.
  3. Segala kegiatan yang akan dilakukan oleh pemohon selama berada di Jepang, atau status sipil/ posisi pemohon dan masa tinggal pemohon, harus memenuhi persyaratan tentang status tinggal dan masa tinggal sebagaimana telah ditentukan dalam Immigration Control and Refugees Recognition Act (peraturan mengenai keimigrasian dan penakuan pengungsi) (Cabinet Order No. 319 of 1951, yang selanjutnya disebut sebagai “Peraturan”>
  4. Pemohon tidak termasuk dalam pokok-pokok yang disebutkan dalam Artikel 5 Paragraf 1 dari “Peraturan”>
Oleh: sancristy | Oktober 12, 2009

Hi Friends !

>Welcome to WordPress.com. This is my blog to give you information about Japan !

Hope you enjoy the articles, though not posted on regular basis…

 

Oleh: sancristy | September 28, 2009

Jak-Japan Matsuri : Awal Oktober 2009

Jak-Japan Matsuri 2009
Japan Festival in Jakarta

Festival budaya ini diselenggarakan oleh “Nihon no Matsuri Executive Committee” bersama Pemda DKI Jakarta Raya, Kedutaan Besar Jepang di Indonesia, dan didukung oleh “Jakarta Japan Club” serta suratkabar “Jakarta Shimbun”/

Festival dibuka pada tgl. 3 Oktober 2009 dengan pameran informasi tentang studi di Jepang bagi mahasiswa Indonesia, tempatnya di JCC.
Festival ini mencakup pertandingan olahraga, pertunjukan seni budaya (tambur Jepang, teater, dll.), seminar, dan ceramah. untuk informasi lengkap silakan kunjungi website


http://www.id.emb-japan.go.jp/matsuri2009/jakjapan2009.html.html

Pada tgl. 29 April 2009 telah dikeluarkan pengumuman tentang keputusan penganugerahan Bintang Jasa dari Kaisar Jepang untuk 3 orang Indonesia, yaitu :
– Bapak Umar Hartono (Bintang “The Order of the Rising Sun Silver Rays”
(Bapak Hartono adalah tokoh dari Yayasan Warga Persahabatan)
– Ibu Santy Chr. Soenarno (Bintang “The Order of Sacred Treasure, Gold and Silver Rays”
– Ibu Yulia Zulkarnina (Bintang “The Order of Sacred Treasure, Gold and Silver Rays”

atas jasa-jasa terhadap peningkatan persahabatan antara Jepang dan Indonesia.

Penyematan Bintang kepada Bapak Umar Hartono telah berlangsung pada Juni 2009.
Kedua penerima (Ibu Santy dan Ibu Yulia) adalah mantan staf Indonesia di Kedutaan Besar Jepang di Jakarta (catatan : Ibu Santy adalah penulis blog ini). Upacara penyematan Bintang untuk keduanya berlangsung pada tgl. 3 Juli 2009 bertempat di kediaman Dubes Jepang Y.M. Bapak Kojiro Shiojiri. Sejauh diketahui, baru kali inilah staf pada Kedutaan Besar Jepang di Indonesia mendapat kehormatan demikian.

Oleh: sancristy | Juli 28, 2009

3 GADIS DUTA BUDAYA JEPANG ‘KAWAII’

Kawaii, adalah istilah dalam bahasa Jepang yang artinya ‘cute’ dalam bahasa Inggris, atau ‘lucu mungil menggemaskan’ kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.  Nah rupanya Kementerian Luar Negeri Jepang tengah giat meningkatkan diplomasi budaya melalui budaya pop Jepang yang kini sedang menggoncang dunia.  Telah ditunjuk tiga orang muda sebagai Duta Budaya ‘Kawaii’, yaitu Misako Aoki, Yu Kimura dan Shizuoka Fujioka.  Ketiganya adalha tiga orang gadis remaja yang bergaya gaul banget.
Ya, kini budaya pop telah menjadi sarana diplomasi karena Perdana Menteri Taro Aso adalah penggemar budaya pop, terutama manga (kartun Jepang).
Oleh: sancristy | Maret 5, 2009

Majalah Aneka Jepang

Sekedar info !
Anda sekalian yang berminat menambah pengetahuan tentang Jepang dan hubungan Indonesia dengan Jepang, silakan membaca majalah Aneka Jepang terbitan Kedutaan Besar Jepang. Tersedia gratis ! Alamat Kedutaan Besar Jepang : Jl. MH Thamrin no. 24 Jakarta Pusat
Oleh: sancristy | Januari 27, 2009

Yukata, apa bedanya dengan Kimono ?

Serba-serbi Yukata
– Apa beda dengan kimono ?

Adalah kebiasaan di Jepang bahwa waktu bersantai-santai di musim panas, orang lebih suka mengenakan yukata daripada pakaian biasa. Orang yang mengenakan yukata biasanya membawa kipas lipat untuk mengusir udara panas. Yukata adalah kimono ringan, berbahan katun, tanpa lapisan. Pada dasarnya yukata berwarna putih dengan corak gambar bunga-bunga berwarna biru. Ada yukata untuk wanita, dan ada pula yang untuk pria. Pakaian tradisional ini mulai digandrungi lagi mulai tahun-tahun 1990-an seiring dengan kegandrungan akan segala sesuatu yang tradisional. Harga sehelai yukata berkisar 30.000 Yen (atau kira-kira US$ 216), sedangkan obi sekitar 10.000 Yen (kira-kira US$ 87). Tidak murah, tapi jauh lebih murah daripada sehelai kimono dan obi-nya. Ada pula yukata yang dijual lengkap dengan kipas lipat, dompet kecil, dan asesoris kecil lainnya; yukata ini disukai wanita muda yang karyawan yang ingin segala sesuatu yang serba praktis.

Mengenakan yukata memerlukan ketrampilan tersendiri, berbeda dengan cara mengenakan pakaian barat sehari-hari, walaupun tidak serumit cara mengenakan kimono sutera. Biasanya yukata lebih panjang daripada tinggi badan pemakai, sehingga harus dilipat di bagian pinggang dan kemudian ditutupi dengan obi (mirip stagen untuk sarung batik) yang dipakai untuk melilit pinggang, dan membentuk simpul seperti pita besar di punggung. Pemakai yukata tidak boleh mengenakan sepatu, karena alas kaki yang dikenakan adalah geta (sandal kayu), tanpa kaos kaki. Untuk mengatasi berbagai kerepotan ini, kini sudah ada obi praktis yang mudah dikenakan.

Pada tahun-tahun belakangan ini, disukai yukata dengan warna-warna pastel yang bercorak kecil mungil, namun sejak tahun yang lalu yang menonjol justru yukata berwarna putih hitam, atau putih biru, dengan corak gambar besar seperti bunga, kembang api, ikan mas, dsb. Corak bunganya pun bervariasi, termasuk corak bunga-bunga Eropa.

Yukata dikenakan oleh pria dan wanita segala usia, termasuk para remaja wanita yang suka memodifikasi atau menambah asesori pada yukata, misalnya menambah renda, memasang korsase bunga, dll. atau mengenakan yukata berwarna mencolok. Selain yukata yang ‘biasa-biasa’ saja, ada pula yukata bermerk bergengsi, dengan harga yang lebih mahal, dan coraknya khas menarik, misalnya dengan motif anggrek, naga, dsb.

Ada pertanyaan, kalau yukata adalah kimono ringan yang dipakai untuk acara santai, terutama di musim panas, lalu kapan orang Jepang mengenaikan kimono sutera ?
Ya, kimono sutera (untuk wanita saja) yang indah dikenakan pada kesempatan-kesempatan penting saja, seperti pada hari tahun baru, upacara hari dewasa (ketika remaja memasuki usia 20 tahun), menghadiri upacara pernikahan (pengantin wanita sendiri justru hanya boleh mengenakan kimono pengantin yang putih polos dan berlapir-lapis), upacara anak-anak Shichi-go-san (memasuki usia 3-5-7), dll. Kimono sutera memang bukan pakaian sehari-hari karena cukup repot untuk mengenakannya, menyimpannya pun harus hati-hati, dan harganya mahal sekali. Pakaian tradisional untuk pria adalah stelan kimono yang ditutupi dengan semacam jaket (haori) yang dikenakan dengan celana lebar berlepit-lepit (hakama). Akan tetapi, sekali pun dalam acara-acara resmi, kaum pria Jepang di zaman modern ini lebih suka mengenakan stelan jas berwarna gelap. Dewasa ini jarang sekali terlihat pria yang mengenakan pakaian tradisional ini, kecuali dalam acara-acara yang bersifat kebudayaan.

Older Posts »

Kategori