Jepang Selintas Kilas (3 – bagian akhir)
Orang Jepang secara tradisional menganut sistem ikatan keluarga yang kuat, akan tetapi dewasa ini ikatan demikian menjadi makin longgar, terutama di kota-kota besar. Kini banyak keluarga inti (yaitu ayah-ibu dengan dua anak) yang hidup terpisah dari kakek dan nenek, karena di kota-kota besar keluarga Jepang tinggal di apartemen sedangkan kakek-nenek biasanya tinggal di daerah. Sementara itu, jumlah kaum manula kian meningkat sehingga timbullah berbagai masalah biaya kesehatan dan sebagainya. Rentang usia rata-rata adalah 85,6 tahun (wanita) dan 78,6 tahun (pria).
Wajib belajar berlaku bagi semua anak, dari sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah pertama. Pendidikan di Jepang pada prinsipnya terdiri dari pendidikan Dasar (6 tahun), Menengah ( 3 + 3 tahun) dan Tinggi (universitas 4 tahun, D-2 dan D-3); juga ada Technical Colleges bagi para lulusan sekolah menengah pertama. Adanya persaingan ketat untuk memperoleh prestasi tinggi dan agar bisa masuk sekolah unggulan, menyebabkan padatnya kegiatan belajar anak-anak, termasuk kegiatan mengikuti pelajaran tambahan di tempat bimbingan belajar yang disebut juku. Tahun ajaran Jepang dimulai pada bulan April dan berakhir pada akhir bulan Maret tahun berikutnya. Pelajaran di kelas berlangsung dari jam 8.30 pagi hingga sekitar jam 3 sore. dan di sekolah para siswa/i mendapat makan siang. Mereka sendirilah yang bertugas secara bergiliran membagikan makan, membersihkan sekolah, dll. Boleh dikatakan bahwa para pelajar menghabiskan waktu hampir seharian penuh untuk belajar di sekolah dan mengikuti les tambahan. Hiburan yang mereka nikmati adalah menonton televisi, main play station, ikut grup olahraga dan kesenian. Pada liburan sekolah, biasanya ada acara darmawisata bersama yang diselenggarakan oleh sekolah. Pada umumnya para pelajar wajib mengenakan seragam yang ditentukan sekolah.
Masyarakat Jepang amat mencintai budaya tradisionalnya dan berusaha terus melestarikannya. Beberapa unsur budaya tradisional yang terkenal adalah misalnya, kerajinan tangan keramik, seni merangkai bunga ikebana, seni melipat kertas menjadi bentuk-bentuk tertentu, disebut origami, seni membuat kertas washi yang alami, juga di bidang seni pentas (misalnya drama Kabuki yang tampil indah; drama Noh bertopeng, dengan gerak kaku, teater boneka Kyogen), termasuk musik seperti musik koto (kecapi Jepang), shamisen (berdawai 2, digesek), seruling shakuhachi, dan lain-lain. Musik tambur taiko yang biasanya dimainkan secara berkelompok, agaknya bisa disandingkan dengan rempak bedug Indonesia ! Akan tetapi, di kalangan kaum muda juga tampak adanya ketidakpedulian akan budaya tradisional. Misalnya, anak muda Jepang amat enggan menonton drama Kabuki, “bikin ngantuk aja !”, kata mereka. Pakaian tradisional Jepang adalah kimono, sedangkan yukata adalah kimono katun (sederhana) yang dikenakan pada kesempatan festival musim panas.
Jepang adalah negeri festival. Dalam setahun ada banyak festival. Salah satu di antaranya adalah Festival Hari Anak-anak yang jatuh pada tanggal 5 Mei. Pada hari tersebut, pada umumnya keluarga yang punya anak-anak yang masih kecil mengibarkan umbul-umbul berbentuk ikan-ikan koi berwarna-warni. Selain itu, di dalam rumah juga dipajang seperangkat pajangan khusus berupa bentuk kecil baju zirah (baju pelindung dari baja atau jerami, dipakai oleh pendekar perang zaman dulu), pedang, dan lain-lain. Sebenarnya hari itu lebih ditujukan bagi anak laki-laki, karena untuk anak perempuan ada “Hina-Matsuri” (festival boneka “Hina”) yang jatuh pada tgl. 3 Maret. Pada hari itu, keluarga yang punya anak perempuan kecil mengadakan perayaan dengan memajang seperangkat boneka khusus pada rak bersusun yang diberi karpet merah. Kedua perayaan itu juga merupakan warisan kebudayaan tradisional. Berbagai festival yang marak di seluruh Jepang sepanjang tahun pada umumnya merupakan pesta rakyat dengan peran-serta masyarakat setempat, tua-muda dan dari berbagai kalangan. Kebanyakan festival dilakukan secara beramai-ramai, misalnya menari bersama (seperti festival Awa-Odori), atau menggotong omikoshi (kuil Shinto miniatur) seraya berteriak-teriak dengan bersemangat, dsb, dengan iringan musik tradisional, terutama tambur (taiko). Beraneka festival tersebut sebenarnya merupakan wujud rasa syukur atau doa minta panen yang berlimpah, atau sejenisnya, atau bisa juga menggambarkan keadaan masa tertentu dalam sejarah Jepang, yang berasal dari zaman dahulu.
Sementara budaya dan kesenian tradisional dibina, pada saat ini juga berkembang apa yang dinamakan seni pop Jepang, yang telah menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Anda mungkin sudah tahu apa itu anime (film kartun), manga atau komik. Sailor Moon, Pokemon, Doraemon…. pasti sudah dikenal oleh kaum muda, terutama para remaja. Oh ya yang sekarang sedang populer adalah Blue Dragon atau Naga Biru, Komaneko, Sergeant Keroro……
Pengaruh keberadaan komik terhadap kehidupan orang Jepang ternyata cukup besar. Bahkan banyak pengetahuan disampaikan dalam bentuk buku komik. Kemudian, unsur budaya pop lainnya adalah gaya berpakaian para remaja Jepang yang banyak ditiru di luar negeri. Ada pula gaya berpakaian ala tokoh-tokoh dalam cerita komik. Gaya berpakaian demikian disebut cozplay. Para otaku (penggemar fanatik) mengumpulkan figur-figur (mainan berupa bentuk tokoh-tokoh komik, berukuran kecil sebesar jari). Jenis musik pop Jepang (biasa disebut J-pop) kiranya juga cukup banyak penggemar dan pengikutnya di berbagai penjuru dunia.
Bahasa Jepang adalah satu-satunya bahasa nasional. Di daerah-daerah terdapat beberapa dialek. Bahasa Jepang menggunakan tiga macam huruf, yaitu huruf kanji, hiragana dan katakana.
Akhirnya, berikut ini pembahasan singkat tentang faktor-faktor yang mendorong Jepang bisa mengalami kemajuan pesat, padahal Jepang porak-poranda pada akhir Perang Dunia ke-2 (1945) ? Mengenai hal ini, ada banyak pendapat. Akan tetapi, secara umum dapat diambil kesimpulan bahwa memang ada beberapa faktor yang mendasari dan mendorong terjadinya kemajuan yang membawa Jepang menjadi salah satu negara termaju di dunia. Semua faktor itu merupakan kebiasaan yang sudah lama tertanam dalam kehidupan orang Jepang, yaitu : rajin bekerja dan berani memikul bertanggung-jawab, berhemat dan suka menabung, disiplin (tepat waktu, dan lain-lain), usaha menjaga mutu, adanya etika malu atas sikap atau perbuatan salah, mencintai alam dan berusaha hidup selaras dengan alam, Kemajuan di bidang sains dan teknologi ditopang oleh ketekunan mengadakan banyak penelitian. Meskipun demikian, tentu juga ada cukup banyak hal-hal yang kurang menguntungkan seperti terjadi polusi lingkungan ketika Jepang sedang giat-giatnya memacu pertumbuhan tinggi perindustriannya; tapi masalah demikian sudah banyak teratasi dewasa ini. Justru masalah sosial yang perlu dihadapi Jepang, a.l. masalah makin banyaknya jumlah kaum tua (berusia lanjut) sehingga memerlukan biaya perawatan, dsb.; terjadinya persaingan ketat dalam dunia pendidikan sehingga para siswa-siswi mengalami stres berat yang tercetus dalam tindakan ijime (bullying – mengganggu atau menyiksa sesama teman sekolah), sampai adanya tindakan bunuh-diri karena kecewa dengan prestasi belajar. Konon dengan adanya permainan komputer, internet, dll., hubungan antara orangtua dan anak-anak tidaklah begitu manis karena anak lebih suka berkurung di kamarnya, duduk berjam-jam di depan komputer, atau di depan pesawat televisi. Ya, itulah harga yang terpaksa dibayar untuk berbagai kemajuan yang diraih…..